Masa SD

Halaman Masa SD merupakan kisah hidupku, selama belajar di Sekolah Dasar. Selama penulis mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar, berpindah sebanyak 3 SD. SD Negeri Baru Lubai merupakan tempat belajar pertama. SD Swasta Datar Tenam merupakan belajar ke-dua. SD Negeri Datar Lebuay merupakan tempat belajar ke-tiga.

"Pada usia 7 tahun, penulis masuk sekolah SD Negeri Baru Lubai. Ketika itu, penulis diharuskan memegang kuping kiri menggunakan tangan kanan. Jika sampai, maka masuk sekolah. Apabila belum, maka belum diterima untuk bersekolah. Saat itu orangtua penulis, tidak tahu tujuannya. Kami hanya patuh atas anjuran guru SD Negeri Baru Lubai.

Ternyata anak-anak yang tangan kanan telah mampu memegang kuping kiri, rata-rata usianya sudah tujuh tahun. Anak-anak umur 7 tahun dianggap paling siap secara fisik maupun psikis. Pada usia tersebut, gerakan motorik anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Untuk memegang pensil misalnya, anak sudah lebih mampu dibandingkan anak umur tiga tahun yang masih suka gemetar jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa.

Semoga anda senang membaca kisah hidupku, selama mengikuti kegiatan belajar pada tingkat Sekolah Dasar. Tulisan yang penulis sajikan, kiranya dapat diambil hikmahnya. Tiada kata sebagai ungkapan rasa senang kami atas kunjungan anda, kecuali terima kasih...

Salam kompak, para netter.

SD Negeri Baru Lubai

Pada masa awal dan masa akhir kanak-kanak ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak. Masa ini merupakan tahap terpenting bagi anak-anak untuk mengembangkan aspek-aspek yang ada pada dirinya seperti aspek afektif, kognitif, psikomotorik, maupun aspek psikososial untuk menyongsong ke masa remaja.

Sekolah di SDN Baru Lubai 1968

Ketika usia SD, penulis bersekolah pada Sekolah Dasar Negeri Baru Lubai, dari tahun 1968 sampai dengan 1970. Pagi hari itu, penulis diantar oleh ayahanda ke sekolah SD desa Baru Lubai. Setelah sampai di sekolah, langsung didaftarkan menjadi murid kelas 1. Kepala Sekolah Bapak Guru Albani dan diantara guru-guru yang mengajar kami Bapak guru Nukman dan Bapak guru M. Qosim.

Penulis sangat senang sekolah disini, bersama teman-teman seperti : M. Hoyin, Zikriadi, Malyadi, Sudirion dan sebagainya. Setiap hari kami, sering bermain kelereng, bermain mobil-mobilan dari buah kayu Cekhu (Menteru). Mata pelajaran yang paling penulis sukai adalah berhitung. Pelajaran berhitung, sangat asik dipelajari. Nilai rapor penulis, kelas I sampai dengan kelas III tahun 1970 mendapat peringkat kedua dan yang menjadi peringkat pertama adalah Zikriadi.

Bermaian orkes-orkesan

Permainan yang sangat berkesan, semasa di desa Baru Lubai adalah sur-suran ditepi sungai Lubai. Saat ini permainan sur-suran seperti bermain di water boom, yaitu kita meluncur dari atas ke bawah mengikuti miringnya tanah tepian sungai. Ada lagi permainan penulis dan teman-teman yaitu bermain orkes-orkesan. Penulis sebagai pemimpin menjadi pemukul gendang (drigen plastik), Hoyin menjadi pemain akordion (suara mulut), Joni Abul menjadi pemain gitar ritem (suara mulut), Mustakim menjadi pemain gitar melodi (suara mulut), M. Hafiz menjadi pemain gitar bass (suara mulut) Yanadi menjadi pemain tambourine/kecrek (kaleng susu di isi kelereng). Biduanita terdiri dari : Hilyamah, Nirdah, Istiqomah dan Zuryanah. Setiap malam dari pukul 19.00 sampai dengan pukul 21.00 kami bermain orkes-orkesan. Suasana dibawah rumah panggung penulis, selalu ramai.

Pergi merantau

Kegembiran bermain bersama teman-teman itu, berakhir pada tanggal 23 Desember 1970. Pada hari itu, pukul 16.00 WIB, kedua orangtua kami mengajak penulis dan adik-adik pergi merantau. Kami dengan berjalan kaki, dari desa Baru Lubai menuju desa Pagar Gunung. Jarak tempuh 9 (sembilan) kilo meter. Dari Stasiun Pagar Gunung menuju ke Stasiun Prabumulih. Di Prabumulih kami menginap dirumah paman Muhammad Haris bin Wakif, adik ibunda kami.

Dari Stasiun Prabumulih menuju Stasiun Tanjung Karang. Melanjutkan kembali dari Tanjung Karang ke Talang Padang. Dari Talang Padang, menuju Air Naningan. Kembali perjalanan dilanjutkan menuju desa Datar Lebuay, dari Air Naningan dengan berjalan kaki dengan jarak tempuh 10 (sepuluh) kilo meter. Akhirnya sampai di desa Datar Lebuay, kecamatan Talang Padang, kabupaten Lampung Selatan (saat ini menjadi bagian kabupaten Tanggamus) provinsi Lampung.

Pada tempat yang baru, keluarga penulis membuat kebun kopi seluas 5 (lima) hektar. Lahan pertanian cukup subur, cukup menjanjikan untuk peningkatan perekonomian keluarga. Namun dibalik semuanya itu, penulis merasa kesepian. Jauh dari teman-teman sepermaian di kampung halaman dan harus tinggal di desa yang masih asing bagi penulis.

Beberapa bulan kemudian, penulis telah mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Mulai dari mandi di sungai Sekampung. Bermain dengan teman yang baru, diantaranya Zurkarnain, Zulhadi dan lainnya. Memasang bubu di sungai Sekampung, mendapatkan ikan Sengkak. Setiap hari Rabu pergi ke pasar mingguan desa Datar Lebuay.

SDN Datar Lebuay

Penulis bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Datar Lebuay, dari tahun 1971 sampai dengan 1973. Kepala Sekolah Bapak Guru Wage Yono. Selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, penulis sangat senang. Penulis bertempat tinggal dirumah Bapak Guru Madi. Tinggal dirumah Guru, sudah sangat menyenangkan.

Prestasi

Prestasi belajar penulis, sangat membanggakan kedua orangtua dan saudara. Nilai rapor diatas rata-rata teman, menjadi peringkat 1 (satu) dari kelas V sampai dengan kelas VI. Selain prestasi belajar sangat membanggakan, penulis ditunjuk menjadi ketua kelas dan dipercaya untuk menjual atribut pramuka kepda teman-teman. Nilai Evaluasi Belajar Tahap Akhir, penulis mendapatkan nilai paling tinggi diantara teman-teman. Teman-teman penulis diantaranya : Adli, Asri, Mahyuddin, Yusnidarti dan lainnya.

Tidak melanjutkan ke SMP

Setelah pengumuman kelulusan dan mendapatkan nilai tinggi, sebagai peringkat pertama pada tahun 1973, namun penulis diberitahu oleh ayahanda belum dapat untuk melanjutkan sekolah ke SMP. Hal ini dikarenakan, paman kami M. Daud bin Wakif datang dari kampung halaman. Beliau hendak membuat kebun kopi dan tinggal di kediaman keluarga penulis.

Kehadiran paman dirumah keluarga kami, sudah tentu menambah beban perekonomian keluarga penulis. Ayahanda mengatakan bahwa tahun ini, kita harus membantu paman M. Daud berupa bahan makanan selama setahun yaitu sampai dengan peladangan beliau panen. Walaupun dengan berat hati, penulis sebagai anak sudah tentu harus menurut apa kata ayahanda.

Tidak bisa mengambil Ijazah

Ijazah tamat SD pun tidak dapat diambil, dikarenakan Kepala Sekolah SDN Datar Lebuay mengatakan harus mengambil kepada penanggun jawab ujian EBTA. Yang menjadi penanggung ujian EBTA katanya, Kepala SDN Air Naningan. Setiap kami berkunjung kerumah penanggung jawab ujian tersebut selalu saja ada alasan.

Apabila kami menanyakan kemana Bapak Guru?  Dijawab tidak ada di rumah. Jarak antara desa tempat tinggal penulis ke desa Air Naningan 15 kilo meter dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Mengingat saat itu, belum ada sepeda motor, Sehingga dengan sedikit memendam rasa kecewa, penulis harus menerima kenyataan tidak bisa mendapatkan ijazah tamat SD.

Mengapa sampai terjadi, ijazah tamat SD tidak boleh di ambil? Sampai detik penulis menulis biografi belum atau jawaban yang sebenarnya. Hanya Allah juga yang tahu, fakta sesungguhnya. Manusia bisa saja bersandiwara dihadapan manusia. Dihadapan Allah, mereka tidak dapat menyembunyikan apapun. Perbuatan yang baik akan mendapatkan balasan dan perbuatan tidak baik balasan.


Ujian SD ke 2

Pada bulan Desember 1974, penulis diharuskan mengikuti ujian SD kembali. Selama ujian EBTA, penulis harus menginap dirumah Bapak Guru Madi. Walaupun sudah lulus tahun 1973, dengan peringkat pertama, dikatakan oleh Kepala SD Datar Lebuay, harus ikut ujian kembali. Dikarenakan akan melanjutkan ke SMP, penulis dengan semangat mengikuti EBTA. Tidak ada sedikitpun rasa sedih dan kecewa, harus ujian sekolah dasar sebanyak 2 (dua) kali.

Lulus dengan peringkat 2

Semua mata pelajaran yang diujikan, dapat penulis selesaikan dengan mudah. Padahal penulis sudah selama 1 (satu) tahun tidak sekolah. Setelah 5 (lima) hari mengikuti EBTA, penulis kembali ke rumah orangtua. Pengumuman kelulusan telah tiba, semua teman-teman bersorak gembira. Mereka gembira, karena dinyatakan lulus dan mereka mengatakan bahwa penulis menjadi peringkat 2 (dua).

Tibalah saatnya, penulis menerima selembar Ijazah SD. Alhamdu lillah, akhirnya penulis telah tamat SD secara sah. Selembar ijazah SD, sudah penulis terima.

Kelurahan/Desa Datar Lebuay (Kodepos : 35679)

Air Terjun Jarum Lebuay terletak di pekon atau Desa Datar Lebuay, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Air terjun ini memiliki debut air yang berlimpah meski musim kemarau hanya saja yang membedakan saat musim kemarau aliran air terjun ini hanya satu.

Nama air terjun ini bermacam nama  yaitu : Air terjun Jarum, air terjun Kembar, air terjun talang Curup. Semasa penulis sekolah di SDN Cita laksana, desa Datar Lebuay sering mandi hulu air terjun ini. Sungai yang mengaliri air terjun ini adalah Sungai Sangarus.

© 2017 AMAR' Lubai, All rights reserved
Powered by Webnode
Create your website for free! This website was made with Webnode. Create your own for free today! Get started