Pemanenan

Selamat Datang, dihalaman Pemanenan. Panen merupakan sebuah proses yang di lakukan mulai dari memanen sampai menghasilkan produk yang setengah jadi, yang di maksud produk setengah jadi adalah hasil panen yang belum mengalami perubahan bentuk dan sifatnya. Panen dilakukan sebaiknya pada fase masak panen dengan ciri pe - nampakan 90% gabah sudah menguning untuk menekan kehilangan hasil.

Jika panen dilakukan pada fase lewat panen, yaitu jerami mulai mengering, pangkal mulai patah, dan banyaknya gabah yang rontok saat panen kemungkinan kehilangan hasil pada fase ini sangat tinggi,.

Mengetam Padi

Kegiatan peladang padi selanjutnya adalah ngetam padi atau memanen padi. Ngetam padi di ume atau memanen padi di ladang, pekerjaan yang tidak terlalu susah, namun diperlukan ketelitian. Masyarakat Lubai memanen padi mengguna ani-ani disebut dengan tuai.

Mengapa memanen padi disebut mengetam?

Aku menganalisanya sebagai berikut : Ketam adalah krustasia decapod dari infraorder Brachyura, dimana biasanya mempunyai "ekor" yang amat pendek. Mereka umumnya diliputi dengan satu cengkerang eksoskeleton tebal, dan dilengkapi dengan sepasang kuku chelae). Karena ani-ani 'tuai' digunakan untuk memanen padi seperti ketam sedang menjepit, maka memanen padi disebut dengan mengetam padi.

Apa peralatan mengetam padi?

Alat yang dipergunakan untuk panen padi harus mempertimbangkan secara teknis, ekonomis dan sosial. Secara teknis, alat panen (mesin, ani-ani, sabit) yang digunakan harus sesuai dengn jenis varietas yang akan dipanen. Ani-ani merupa kan alat panen padi yang terbuat dari bambu diameter 10 - 20 mm, panjang sekitar 10 cm dan pisau baja setebal 1,5 - 3 mm. Ani-ani digunakan untuk memotong padi varietas lokal yang berpostur tinggi;

Demikian sekilas cerita berladang atau beume masyarakat Lubai, namun sayang sekarang berladang ataupun beume sebagian masyarakat Lubai telah meninggalkannya dikarenakan kesibukannya mengambil getah karet.

Tuai

Tunjuk tuai sebuah ungkapan sifat orang sombong

Alat panen tradisional dari sejak jaman dahulu hingga kini masih tetap digunakan oleh para petani untuk memanen padinya. Alat ini sangat sederhana, yaitu ani-ani dan sabit yang digunakan dengan tenaga tangan.Ani-ani dalam bahasa Lubai disebut Tuai.

Oleh karena itu disamping ada beberapa keuntungan, juga banyak kerugian oleh alat ini. Alat panen ani-ani terdiri dari dua bagian utama, yaitu pisau dan kayu genggaman yang juga tempat meletaknya pisau. Sedangkan sabit juga terdiri dari dua bagian yang sama, hanya perbedaannya dalam bentuk.

Kelemahan-kelemahan dari penggunaan alat ini adalah :

  • Kebutuhan tenaga orang per hektar banyak.
  • Kehilangan gabah pada waktu panen relatif lebih tinggi dibandingkan dengan alat mekanis 3. Kenyamanan bekerja rendah
  • Kapasitas kerja rendah.
  • Biaya panen perhektar relatif lebih tinggi dibandingkan dengan alat mekanis, tapi biaya awal tidak ada.
Sedangkan keuntungannya adalah :
  • Memberikan kesempatan kerja yang banyak kepada para buruh panen.
  • Hasil pemotongan gabah dengan ani-ani ini lebih bersifat terpilih.
  • Harga alat panen sangat murah, bisa dimiliki oleh setiap petani

Sistem Panen

Untuk memperkecil persentase angka kehilangan hasil, sesuai Pedoman Penanganan Pasca Panen Tanaman Pangan, dari Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, pemanenan dilakukan dengan sistem berkelompok dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Pemanenan dilakukan dengan system beregu/ kelompok
  • Pemanenan dan perontokan dilakukan oleh kelompok pemanen
  • Jumlah pemanen antara 5-7 orang yang dilengkapi dengan satu unit pedal thresher atau 15-20 orang yang dilengkapi satu unit power thresher.

Pengumpulan hasil panen

Untuk mengurangi terjadinya kehilangan hasil, sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengumpulan hasil panen menggunakan alas dari terpal atau plastik. Dengan cara ini, kehilangan hasil panen dapat ditekan antara 0,94 - 2,36 persen.

Perontokan padi

Perontokan padi harus ditangani dengan baik, bila tidak kehilangan hasil sebagai akibat ketidak tepatan dalam melakukan perontokan mencapai lebih dari 5 %. Hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah penundaan perontokan dan alat dan mesin yang digunakan


Perontokan

Perontokan sebaiknya dilakukan setelah pemanenan. Penundaan perontokan padi disawah menjadi masalah besar karena dapat mengakibatkan tingginya susut hasil dan turunya mutu gabah. Apabila terjadi penundaan perontokan maka sebaiknya dilakukan denagn cara : 1. Menggunakan alas terpal saat pemupukan, 2. Lama pnundaan tidak boleh lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi tidak boleh lebih dari 1m. Berdasarkan alat perontok padi, cara perontokan dapat dikelompokkan menjadi beberapa cara, antara lain (1) iles/injak-injak, (2) pukul/gedig, (3) banting/gebot, (4) pedal thresher, (5) mesin perontok (BPS,1996).

Perontokan padi dengan cara dibanting dilakukan dengan cara membantingkan atau memukulkan segenggam potongan padi ke benda keras, misalnya kayu, bambu atau batu yang diletakkan pada alas penampung gabah. Kapasitas perontokan dengan cara gebot sangat bervariasi, tergantung kepada kekuatan orang, yaitu berkisar antara 41,8 kg/jam/orang sampai 89,79 kg/jam/orang. Kemampuan kerja pemanen di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta untuk merontok padi dengan cara gebot berkisar antara 58,8 kg/jam/orang sampai 62,73 kg/jam/orang Perontokan padi dengan cara gebot banyak gabah yang tidak terontok berkisar antara 6,4 % - 8,9 % Untuk menghindari hal tersebut, maka perontokan padi perlu menggunakan alat atau mesin perontok.

Cara tradisional masyarakat Lubai menggunakan kaki disebut dengan ngihek. Ngihek padi maksudnya sekumpulan tangkai padi hasil pemanenan di injak-injak, sampai rontok. Aku pernah belajar mengihek padi, asik juga. Seperti main-main saja, tapi lama-lama menghasilkan sekumpulan gabah padi.

Penyimpanan

Penyimpanan gabah basah

Masalah lain yang tak kalah pentingnya adalah penanganan gabah basah hasil panen. Mengingat jumlah lantai jemur terbatas, tidak munculnya sinar matahari karena hujan, sulitnya mendapatkan mesin pengering dan biaya pengeringan cukup mahal yang mengakibatkan petani kesulitan menyimpan gabah sehingga gabah hasil panen mereka menjadi rusak dan berkecambah.

Untuk itu diperlukan teknologi penyimpanan gabah basah yang sederhana, biaya murah dan mudah diterapkan. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah mengurangi kadar air gabah sampai pada kadar air simpan, dapat dilakukan juga dengan cara menghambat kenaikan suhu dalam tumpukan gabah dengan menggunakan zat higroskopis.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Lubai, hasil panen padi disimpan didalam bake. Padi-padi yang telah disimpan didalam bake, dimasukan kedalam behunang. Satu behunang kira-kira dapat memuat padi 3 bake. Berat timbangan padi didalam 1 behunang kira-kira 50 kilo gram. Behunang adalah alat untuk membawa padi, terbuat dari rotan. Bentuk behunang seperti bakul, mempunyai tinggi 70 centi meter, berdiameter 40 centimeter.

Padi yang telah diangkut menggunakan behungan tadi masukan kedalam bilik. Bilik adalah tempat menyimpan padi. Menyimpan padi didalam bilik disebut dengan meladung padi.

© 2017 AMAR' Lubai, All rights reserved
Powered by Webnode
Create your website for free! This website was made with Webnode. Create your own for free today! Get started